music mY bl0g

Selasa, 07 Juni 2011

HP LG Chocolate GM360i

HP LG Chocolate GM360i

Kondisi Barang : Bekas
Harga : Rp. 1.550.000
Lokasi Seller : Jawa Barat

Description :

Agan, thread kedua ni ane mau jual lagi
kali ini ane mau jual HP ane,

Alasan ane jual sih cuma dah bosan aja ma ni hape, pengen ganti ma yang lain,
beli baru bulan februari kemarin, jadi masih garansi resmi gan, lum pernah jatuh, lum pernah kehujanan atau kena air.
Kondisi barang
1. Mulus,
2. Lengkap
3. Baterei tahan stand by 4/5 hari kalau dipake tlp n sms 2 hari tahan
. d pake musik seharian
4. HEadset bass
5. Keypad murni masih mulus, no cacad
6. Casing no cacad

BELUM PERNAH BONGKAR masih segel n masih virgin, Ada No seri dari POSTEL, no BM

Kelengkapan
1. 1 set Hp,
2. baterei (Orioginal
3. 2Gb Memory Ext. (Original)
4. Headset Bass, bawaannya emang g ada, headset nya compatible apapun yang mp3 juga bisa.
5. Kardus
6. Kartu Garansi
7 Com ddata (kabel data)
8. Charger Original
Buku manual,


Spesifikasi HP bisa dilihat di Google tapi untuk gambaran
1. Wifi certified
2. Bluetooth
3. 3 Layar Desktop
4. Touch full Screen
6. Kamera 5MP, Autofokus, LED Flash (2x lampu) (Gambar Mulus walaupun di zoom) 6x Zoom
7. Video ada (pengaturan manual
8 Recorder
9. Game 6
10. Musik mp3
HArga awal 1,9 jt - 2,1 jtan

Segitu aja paling gan.
Untuk Harga boleh nego tapi wajar n sehat aja ya gan,
ane buka mulai dari harga 1,55 jt gan, nego boleh tapi sehat. lelang dimulai.

for more information
bisa contact ke
email: ansep08@yahoo.com
enzhie.famouss@gmail.com

HP: 085781344433 / 08989348191

Mohon sundulan dan postingan nya
COD : BOGOR,Jakarta Kota, Monas,

Senin, 06 Juni 2011

Bermain bersama Pramuka

“Kita adalah anak-anak luar biasa. Tetaplah bermimpi dan berkarya. Sebab suatu saat cita-cita kita PASTI menjadi nyata.” Sebait kalimat yang kusuka, ditulis pada selembar kertas. Sebelum akhirnya melayang di udara.

Harus kuawali untaian cerita ini dengan perkenalan. Aku anak pramuka yang terdaftar sebagai tamu racana di UPI. Berniat mengadakan kegiatan yang menarik. Karena kami sadar, dari tahun ke tahun mengalami kemunduran dalam hal perekrutan. Juga ingin melunakkan stereotip, bahwa pramuka sangar dan tidak bersahabat.

Anak-anak masa kini adalah pemuda masa depan. Karena itulah kami bermaksud mendekati kawan-kawan yang belia. Tujuan even kali ini adalah mengingat kembali permainan tradisional. Jika bertanya apa relasi antara keduanya, awalnya sulit menjawab. Tetapi ada sebuah benang merah yang dapat disimpulkan.

Permainan tradisional sudah hampir punah, sangat sulit ditemukan. Anak-anak lebih asyik berolahraga di depan layar komputer dan playstation. Menunjukkan ego masing-masing, enggan bersosialisasi dengan kawan-kawannya. Padahal dalam permainan tradisional, tidak ada satu permainan pun yang tidak membutuhkan kawan. Sehingga kekerabatan akan sangat kentara dalam menjalani kehidupan. Begitu pun dengan kepanduan ini. Banyak orang mulai meninggalkannya. Dan mungkin beberapa puluh tahun lagi tunas kelapa hanya akan menjadi sejarah dan kenangan indah.

Semoga saja dengan diadakannya kegiatan ini, akan menjaring kawan-kawan kecil di tingkat penggalang lebih antusias dalam menjalani kehidupannya di kepanduan. Program ini sederhana. Melakukan atraksi permainan tradisional di setiap pos yang disediakan pada saat penjelajahan.

Hari-H pun tiba. 26 peserta hadir saat apel pembukaan. Itu dari 2 sekeloah. Padahal kami mengundang 3 sekolah. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya SD KPAD mengirimkan seluruh pasukan penggalangnya. Lebih dari 150 siswa didampingi 3 pembantu pembinanya. Mental yang tadi hampir punah beralih menjadi shock berat. Jumlah panitia tak lebih dari 30 orang, tetapi harus melayani adik-adik penggalang yang jumlahnya mendekati angka 200.

Semua peserta berbaris menunggu giliran mencari jejak langkah. Pos pertama disediakan rantai karet gelang. Rintangannya harus melompati rantai yang membentang sembari bermain “yeye”. Tentunya dengan seragam pramuka lengkap. Laki-laki pun tak luput. Mereka harus melewatinya sambil lompat tinggi. Tampak raut muka bahagia seusai mereka meghadapi aral melintang.

Pos kedua dan ketiga tidak kalah menarik. Lagu yang disediakan harus dinyanyikan dengan gerakan yang sesuai. Pos kedua mendendangkan “mie mie mie mie”. Sedangkan pos selanjutnya berjudul “perepet jengkol”. Tawa bahagia dari mereka menghiasi setelah berhasil melakukannya. Pos selanjutnya adalah permainan tongkat. Mereka harus masuk ke celah-celah yang ada ketika empat kawannya menghentak-hentakkan tongkat membuat irama.

Selanjutnya adalah pos terakhir. Di mana fasilitator permainannya aku. Kawan-kawan yang telah datang diminta beristirahat sambil menunggu peserta yang lain hadir. Setiap orang diberi selembar kertas dan aku memintanya untuk menuliskan harapannya masing-masing. Meskipun yang kutulis bukanlah harapan, melainkan kalimat yang kusuka. Lantas membuat origami tradisional, berbentuk pesawat terbang. Semua sudah hadir dan siap menerbangkan asa. Aku teriakkan aba-aba agar kami serempak menerbangkannya.

“Satu, Dua, TIGAAA”

Kami bersamaan melepaskan pesawat kertas. Semuanya terbang tinggi, harapan kami melayang. Berkelok-kelok berjalan mengikuti arah angin. Lama mereka di udara, sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


Biodata Penulis.

Nama Asli : Mukodas

Nama Pena : Sinatrya Mayapada

Tempat, tanggal lahir : Bogor, 14 05 1990

Alamat sesuai KTP : Kp cibeber IV ds. Cibeber 2 Rt 02/02 leuwiliang Kab bogor 16640

Alamat surat :gg gegersuni 1 no 43 B.

jln. gegerkalonggirang kec. sukasari kota Bandung.

45153

Email :sinatrya.mayapada@gmail.com

Fb : Oms Mukodas Sinatryamayapada

No telp : 08997011089

Tunjuk Satu Bintang


Tunjuk Satu Bintang

Sinatrya Mayapada

Coba Kau tunjuk satu bintang.

Sebagai pedoman langkah kita.

Jabat erat hasil karyaku.

Hingga terbias warna syahdu.

Lantunan lagu yang sengaja aku perdengarkan kepadamu. Melalui radio tape milik ayah, dengan kaset pita SO7 milik ayah pula. Sengaja sore tadi aku utak-atik media ini. Agar pada saat malam, tepat lagu ini yang berdendang. Pas ketika aku tekan tombol play. Dan sempurna, rencanaku berhasil. Bintang pun berkerlap-kerlip merestui peristiwa kita.

Aku tak peduli dengan kata-kata setelahnya. Yang penting lagu ini mewakili perasaanku kepadamu. Aku ingin kamu menunjukkan bintang yang kamu inginkan. Tidak lebih. Sebagai pedoman langkah kita. Pedoman? Apa artinya? Kita masih terlalu dini untuk mengetahui makna lagu itu secara utuh.

Lagu ini sengaja aku perdengarkan khusus untukmu malam ini. Sebelum esok pagi kita harus berpisah. Kita tengah duduk di atas rumah pohonmu. Aku tak pernah merasa sesedih ini dalam hidup. Sambil berharap bahwa perpisahan kita hanyalah semu.

Kulihat kamu tengah menengadah mencari sosok bintang yang kamu inginkan. Menengok ke kiri dan ke kanan, kemudian memperoleh satu benda bersinar yang berada di angkasa. Lantas kamu tersenyum manis, mengalahkan manisnya kopi yang sering kuteguk.

“Aku mau yang itu,” ujarmu manja. Sembari menunjukkan salah satu dari ratusan bintang yang bersinar. Andai saja aku bisa memetiknya, akan kujadikan sebagai hadiah terindah untukmu seorang. Kado istimewa yang tak mungkin bisa disamakan oleh orang lain. Tapi apa daya, aku hanyalah manusia biasa.

“Maaf, Sih. Aku tak dapat memberimu itu.” Aku sangat menyesal, kenapa harus lagu ini yang aku perdengarkan untukmu. Andai saja waktu bisa terulang kembali, akan kupilihkan gita yang bisa kupenuhi. Seperti bukan pujangga atau lagu lain.

“Tidak apa,” ujarmu lemas sekali. Nyaris tak terdengar. Aku sadar, Kamu benar-benar kecewa terhadapku. Kita kembali dalam keheningan malam. Meski lagu itu masih mengiringi percakapan malam kita.

“Asih, udah malam.” Ibumu berteriak memanggilmu di depan pintu. Memanggil kamu yang tengah memeluk lutut dan bertopang dagu. Aku terkejut. Tak terasa malam sudah hampir larut. Kemudian menekan tombol berinisial G pada jam tangan G-shock yang melingkar pada pergelangan. Menyala hijau beberapa detik guna menunjukkan waktu. Benar saja, sudah jam 9 malam. Tak pantas anak kecil berduaan pada malam hari.

Kamu mulai beranjak turun melalui tangga. Aku tak sengaja menahanmu. Lengan putihmu kupegang erat di luar kendaliku. Aku hilaf. Selama ini aku tak pernah berani memegang tanganmu. Tapi kali ini, aku terlampau malu melakukannya. Ini di luar dugaan.

Jantungku berdegup cepat, serasa ingin melompat dari dada. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya dapat menatap matamu. Matamu pun bertemu pandang dengan netraku. Lama kita terdiam. Aku merasakan kenyamanan saat kita terdiam bersama.

“Asih.” Ibumu membuyarkan lamunan kita yang baru saja terajut. Kini aku tak kuasa menggenggam lengan indahmu. Aku lepaskan sebentar. Aku mengambil origami angsa yang kusimpan di kantung celana. Oh tidak, begitu lusuh.

“Terimakasih.” Kamu tersenyum menatap pemberian yang tak seberapa itu. Warnanya ungu, seperti warna kesukaanmu. Meski kamu tak pernah bicara terus terang tentang warna kesukaan, aku tahu itu dengan pasti.

“A, Terimakasih.” Benarkah kamu memanggilku dengan sapaan ‘A’? Aku benar-benar bahagia. Biasanya kamu panggil aku Cenil, seperti semua teman kita. Panggilan yang sebenarnya tidak kusuka. Hanya karena aku memiliki tonjolan kecil pada daun telinga bagian kanan. Benda itulah yang disebut cenil, tapi kenapa lantas aku pun dipanggi ‘Cenil’? Tapi tak apalah. Itu sudah biasa. Tetapi saat kamu panggil aku ‘A’, itu membuatku melayang. Terlebih dari mulut mungilmu. Aku ingin kamu memanggil aku dengan sebutan tadi lagi.

Kamu meneruskan perjalanan kemudian masuk ke dalam rumah, disusul ibumu. Aku pun turun dan bergegas pulang ke rumahku. Harus kembali melihat mama yang bersimbah air mata. Pasti karena ulah ayah lagi. Kuletakkan radio dan jam tangan yang pernah ia berikan pada meja kerjanya. Aku harus segera tidur. Besok pagi harus pergi ke Cirebon bersama adik. Meninggalkan ayah sendiri di kampung halaman.

***

Langkah kakiku kembali menginjak teras rumah yang telah lama tak kujamah. Di tempat inilah aku dilahirkan. Dibesarkan sampai kelas 5 SD. Di tempat ini pula aku merasakan kesedihan yang amat sangat. Melihat pertengkaran antara ayah dan mama. Adu mulut sudah menjadi menu sarapan sehari-hari. Mereka tak peduli dengan kondisi psikis dan psikologis anak-anaknya.

Praktek bullying diperagakan ayah tiada henti. Mungkin karena beban pikirannya pada pekerjaan. Sehingga mamalah yang menjadi korban sasaran. Terkadang wajahnya merah terkena tamparan. Atau bibirnya yang pecah-pecah sebab tak kuat menahan kerasnya telapak tangan yang melayang. Hingga akhirnya mereka resmi berpisah. Perceraian adalah jalan keluar terbaik yang mama pilih.

Setelah perpisahan itu aku tak pernah lagi kembali ke rumah ini. Keputusan mama berimbas pada perpisahan aku dengan Asih. Selama itu kami tak pernah memberi kabar. Tidak ada yang namanya hand phone, electronic mail, apalagi facebook atau twitter. 9 tahun yang lalu semuanya masih asing. Atau bahkan mungkin belum ada.

Kemarin Pak Abdul datang ke rumah yang di Cirebon. Memberi tahu bahwa ayah kecelakaan. Meski dia telah berkeluarga lagi tapi namakulah yang disebut-sebut ayah, kata Pak Abdul menambahkan.

Sekasar apapun perlakuannya pada mama, ia tetaplah ayah kandungku. Emosi jiwa kami kentara. Usai mendengarkan berita, aku sontak panik. Takut terjadi hal yang tidak diingankan menimpa ayah. Awalnya seluruh keluarga menolak kepergianku. Terutama mama.

“Ma, ia tetap ayah kandungku Ma!” pintaku waktu itu dengan muka memelas.

“Sudah lama tak bertemu Ma, izinkan aku pergi. Mungkin inilah kesempatan terakhir bertemu dengannya.” Aku merasakan embun hangat menetes di pipiku. Aku cium telapak tangannya meski masih sesengukkan. Saat kulepaskan dan menatap matanya, ia pun ikut haru dan mulai menitikkan bulir-bulir kristal bening.

Sebenci apapun mama terhadap ayah, mereka pernah menjalin asmara. Bahkan hingga sampai pelaminan. Emosi di antara keluarga pernah menyatu.

“Tok tok. Asalamualaikum.” Kuketuk pintu yang sudah usang. Belum berganti selama aku pergi. Seorang ibu paruh baya membukakan pintunya untukku dan Pak Abdul. Dia adalah istri kedua ayah. Aku tak ingin berkomentar tentang parasnya. Ia mempersilakan kami masuk dan mulai berbincang tentang kondisi ayah.

“Seminggu yang lalu ia tertabrak mobil. Tangan dan kaki kirinya patah. Tapi ia gak mau dirawat di rumah sakit. Mau di rumah saja. Toh ada Pak Deni dari Cimande yang pandai mengobati patah tulang dengan cara tradisional. Paling 3-4 minggu lagi juga udah pulih, kata si bapak. Padahal ibu khawatir dengan kondisi fisik bapak.”

Aku berjalan ke kamar ayah. Aku melihat meja kerjanya. Semuanya tertata rapi. Jam tangan dan radio tape kesayanganku masih tersimpan paling atas. Di dindingnya ada foto keluarga aku dengannya, yang bingkainya terbuat dari batang ice cream. Kami berdua tengah tersenyum bahagia.

Aku lihat ayah tengah terkapar. Tertidur lemas dengan dibalut perban di semua badan. Mukanya tergerus aspal. Sama seperti bagian kulit yang lain. Aku dekati ia dengan mata yang mulai menitikkan air mata. Memegang erat tangannya, tak sengaja aku telah membangunkan ayah.

“Roni,” suaranya begitu lemah. Tapi gendang telingaku mampu merasakan getarannya. Lirih sekali. Aku rindu dengan suara khasnya. Sudah bertahun-tahun tidak mendengar suara langsung ayah. Dari sanalah kami berdua mulai menganaksungaikan air mata.

Alhamdulillah, dari hari ke hari kesehatan ayah menunjukkan skala positif. Tentu saja menengok ayah kali ini tidak akan menjadi hal yang sia-sia. Aku dapat menyempatkan bermain dengan kawan-kawan lama, selepas pagi membantu ayah berjalan tanpa alat bantuan. Aku memapahnya. Berjalan di luar rumah. Menyenangkan.

Bertemu dengan kawan-kawan semasa kecil adalah hal yang kurindukan. Sapaan ‘Cenil’ tak pernah lagi kudengar selama di sana. Berkumpul dengan mereka sembari bermain gapleh atau remi di pos ronda menjadi pilhan terbaik.

Menonton anak-anak yang tengah menerbangkan layang-layang menjadi pemuas nafsu tersendiri. Aku selalu teringat kenanganku dengan wanita yang dulu selalu mengikutiku, Asih. Ia selalu saja mengekor saat aku bermain layangan. Ia akan memegangi dan pergi ke arah hembusan angin tanpa aku minta. Setelah melayang, ia tampak ingin mencoba menerbangkannya.

Aku tak bisa menodai wajah lucunya dengan kesedihan. Aku pinjami ia benang yang mengendalikannya. Terkadang aku kecewa. Karena layang-layang yang ia kendalikan selalu saja menyangkut di pohon. Ia akan tersenyum dan memperlihatkan gigi ompongnya. Aku yang tadinya mau marah, akan ikut tertawa geli melihatnya.

“Ha ha ha.” Salahsatu kawan kecilku mengagetkan dengan tawa khasnya.

“Aneh, ketawa sendirian. Masih waras?” ejekku pada Bejo.

“Kamu yang aneh. Senyum-senyum sendiri. Gak bagi-bagi.”

“Ha ha,” kini giliranku yang tertawa.

“Jo, gara-gara ngeliat anak-anak itu aku jadi inget waktu kecil. Inget Asih.” Kemudian aku curhat panjang lebar tentang anak itu. Dari dulu sampai saat ini.

“Asih itu udah tunangan. Milik orang lain. Bentar lagi nikah,” cerocosnya.

Benarkah? Aku meninggalkannya 9 tahun lalu. Saat ia masih kelas 4. Kini, ia sudah dewasa dan sudah hampir menikah. Pertemuanku dengan Asih akhir-akhir ini memang selewat saja. Hanya saling sapa. Tak pernah lagi berbicara panjang lebar yang sangat kudambakan.

“Dia tunangannya sama Rio, temen SD kita.”

Rio, mendengar namanya saja aku sudah kenal. Ia adalah teman baikku ketika masih kecil. Dulu kami sering berbagi dalam hal apapun. Bahkan untuk contekan yang tak diperbolehkan. Tetapi untuk Asih, lelaki mana yang mau berbagi cintanya kepada seorang wanita.

***

Asih, sebelumnya aku ingin ucapkan terimakasih. Kamu sudah mau bertemu denganku di rumah pohon ini. Mungkin inilah pertemuan terakhir kita. Aku harus kembali pulang ke Cirebon esok pagi. Sama seperti beberapa tahun lalu. Saat aku tinggalkan kamu dulu. Posisi dudukmu pun masih sama seperti dahulu. Memeluk lutut sambil bertopang dagu. Hanya saja kini kamu tengah menggenggam telepon seluler.

Semoga kamu masih ingat masa kecil kita. Saat membuat rumah pohon ini bersama Pak Abdul, ayahmu. Sepertinya aku tidak percaya, karena hasta karya kita masih kokoh meski dimakan usia.

Rambutmu kini panjang menjulang. Hitam mengkilat. Langit malam pun kalah telak jika disandingkan dengan pekatnya keindahan rambutmu. Aku tak mampu membelaimu, menyentuhmu, terlebih memilikimu.

Kamu bukanlah Drupadi yang mampu membagi cintanya kepada 5 kesatria bersaudara sekaligus. Dan aku bukanlah Ramayana yang meragukan kesucian kekasihnya. Aku juga tak akan pernah sudi membagimu dengan orang lain. Selamanya aku tak akan pernah rela.

Asih, aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan selama aku tak ada di sini. Saat jauh dari sisimu. Aku tak peduli tentang kamu yang telah tunangan. Dan aku tak peduli betapa sayangnya dirimu kepada Rio. Aku hanya ingin kamu yang sekarang. Karena yang aku butuhkan adalah kamu yang tengah duduk di sampingku. Seseorang yang berada dekat denganku, tetapi serasa ada sekat tebal yang menghadang. Yang selalu memisahkan antara cintaku dengan hatimu.

Kamu mulai memainkan musik yang ada dalam hpmu. Gendang telingaku menangkap getaran yang sudah lama aku tidak aku dengar. Indah, mengalun lembut.

Hu la la … Hu la la… Lagu itu merespons memoriku. Ini adalah gita yang memiliki kenangan indah antara kamu dan aku.

Hu la la … Hu la la… hu. Benar. Jantungku berdegup lebih cepat. Peluh pun mulai membanjiri leher dan wajah.

Coba Kau tunjuk satu bintang. Lagu itu begitu syahdu. Lembut, mengalun dengan indah. Memautkan hati ini pada kenangan yang telah lalu. Apakah kamu masih ingat? Aku tak akan pernah lupa dengan lagu ini. Lagu cinta yang pertama kali aku berikan kepada anak belia yang kini beranjak dewasa. Aku sungguh terharu. Sangat.

Sebagai pedoman langkah kita. Aku tersenyum sendiri mendengar kalimat itu. Pedoman? Kata yang dulu mengusikku untuk berpikir keras. Ha ha. Kini kita bukanlah anak-anak yang belum mengerti maknanya. Kita sudah dewasa. Dan aku yakin kita telah tahu maksudnya, meski kita tak saling bicara.

Jabat erat hasil karyaku. Kamu membuka sebuah buku. Kamu memperlihatkan sebuah benda yang mengganjal. Lipatan kertas berbentuk angsa ungu. Itukah origami yang pernah aku berikan? Ternyata kamu masih menyimpannya. Tersimpan sebagai pembatas buku agar tidak lusuh. Kurasakan air mata turun tertarik gravitasi.

Hingga terbias warna syahdu. Aku tak mengerti. Tapi aku masih menangis. Lantunannya membawa ke dunia fana. Alam yang kita ciptakan sendiri. Di mana hanya aku dan kamu yang menjadi penghuninya. Kita adalah pasangan yang sangat bahagia.

Lagu ini masih menggema di kuping kita. Tetapi kita abaikan. Kita tengah asyik dengan imajinasi. Dalam negeri khayalan pun aku tak kuasa menyentuhmu. Ada penghalang antara kamu dan aku, mungkin itu rasa minder untuk memilikimu yang sangat berharga. Tak kuduga, kamu duluanlah yang menyimpan telapak tanganmu di pahaku.

Bukan, ini bukan khayalan. Kamu simpan tanganmu saat aku menangis terharu. Kemudian kamu menghapusnya dengan ibu jarimu yang lentik itu. Aku tak ingin malam ini segera berakhir.

“Kamu ingat dengan semua ini?” tanyaku sambil memberanikan diri memegang tangannya. Tentu saja tembang tunjuk satu bintang dari Sheila On Seven masih mengudara. Lagu ini menjadi latar belakang percakapan malam kita.

Kamu jawab dengan senyuman manis. Bahkan lautan tuak pun tak sebanding dengan sunggingan manismu itu.

“A,” ucapanmu itu mengingatkanku pada harapanku yang dulu. Ingin sekali aku dipanggil olehmu dengan sapaan itu. Selamanya.

“Asih tak akan lupa dengan kenangan kita, A! Saat main bepe, ngadu cupang, ujan-ujanan, mentang layangan, gupak di sawah. Itu semua terlalu menyenangkan, sulit dilupakan.”

“Tapi kini Asih telah nerima lamaran Bang Rio. Kami sudah lama tunangan, dan bentar lagi nikah,” ujarmu mendesah. Sembari menunjukkan cincin indah yang melingkar di jari manismu.

Begitu cepat keindahan malam ini harus berakhir. Baru saja aku merasa melayang di udara karena ucapanmu yang tak bisa melupakan kisah kita. Kemudian kamu langsung menjatuhkan harapanku dengan berkata akan segera menikah. Harapanku kembali musnah.

“Asih, Coba Kau tunjuk satu bintang!” pintaku padanya. Tanganku menengadah ke angkasa raya. Mempersilakanmu memilih bintang lagi. Sekalipun kamu menunjukkan satu bintang bersinar, kini aku bersedia membawakannya untukmu.

Tapi kini jawabanmu berubah. Kamu gelengkan kepalamu. Lantas meletakkan angsa ungu pada telapak tanganmu. Kamu menempatkannya diantara dua wajah kita yang saling berhadapan satu sama lain.

“Inilah Bintangku,” ucapmu fasih.

“Origami itu?” tanyaku heran.

“Ia. Bintangku adalah ini. Bagiku bintang adalah sesuatu yang mampu bersinar di tempat yang jauh. Memberi petunjuk keberadaannya, saat salah melangkah.” Kata-katamu bersayap. Aku sulit memahaminya.

“Sama seperti angsa ungu buatanmu,” tambahmu lagi. Sebenarnya aku masih belum mengerti. Tapi aku nyaman mendengarnya.

Kita berdua berdua begitu syahdu pada peristiwa kali ini. Angin malam menusuk-nusuk rusuk. Tapi tak apalah, karena besok pagi aku akan pergi jauh, kembali meninggalkanmu.

“Asih,” Ibumu memanggil. Suara itu seperti alarm yang berbunyi saat malam menjelang. Kamu pasti tak mau mengecewakannya. Aku pun tak akan mencegahmu, tidak seperti dulu. Aku membiarkanmu begitu saja. Kamu turun ke bawah dan masuk ke rumah disusul ibumu. Meninggalkan aku yang masih berada di atas rumah pohon ini.

Aku menarik nafas panjang, kemudian berbaring. Mencoba menghilangkan penat dalam dada. Aku mulai menutup mata. Hijau bukan hitam. Aneh, ketika aku menutup mata, aku rasakan cahaya hijau yang melingkupi kelopak. Aku kembali menutup mata, masih hijau. Mungkin inilah warna syahdu. Hijau, seperti warna surga.

Leuwiliang, 2011

Dikarang oleh :Oms/Ohm (Mukodas Sinatria Mayapada)

Septian Maulana. Diberdayakan oleh Blogger.

Stephanie VERSUS Cika famouss

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons